Untuk teman – teman, saudara-saudaraku yang peduli akan adik – adik kita, bangsa kita semasa sekarang dan yang akan datang. Saya hanya ada sedikit keluhan.  Masa kecilku berbeda dengan mereka zaman sekarang. Mungkin memang mereka lebih sejahtera. Mereka lebih banyak mendapat akses.

Tapi dibalik itu semua, saya teringat pesan bapak Djoko Santoso di Balairung Pancasila saat saya masih kelas 3, saat itu beliau masih menjabat sebagai KSAD. Indonesia diramalkan(diprediksikan) akan bangkit! dan menjadi salah satu negara besar dunia pada abad 21. Namun yang paling saya ingat adalah kata – kata keduanya, yaitu “namun dibalik itu semua, kita sesungguhnya menghadapi permasalahan yang sangat berat. Berbeda dengan zaman dahulu, sekarang ini ancaman yang terbesar bagi bangsa kita adalah serangan nirmiliter, terutama pada generasi muda”.

Dari kata – kata tersebut, tersimpan suatu pesan bahwa sudah dilancarkanya serangan nirmiliter (non militer) pada bangsa kita. Kalau zaman dahulu kita dapat membendung serangan militer dengan persatuan yang kokoh. Kalau saat ini apakah yang bisa kita lakukan? Cobalah perlahan buka mata hati, lihat lebih dekat apa yang sebenarnya terjadi di negara kita. Jangan hanya berpedoman kepada satu

informasi saja. Saya masih ingat, waktu kecil lagu – lagu yang saya nyanyikan sangatlah berbeda dengan sekarang.  Saat ini..? maaf bukanya mengejek, tetapi akapah lagu – lagu zaman sekarang sudah sesuai dengan anak umur lima tahun dan kawan – kawanya?? Saat ini, bahkan anak umur empat tahunpun nyanyianya “kapan ku punya pacaar??, dkk. Pantas tidak?. Oke kalau ada seseorang yang mengatakan itu wajar dan anak kecil pun mungkin tidak terlalu memahaminya. Tapi dalam hati saya ingin berteriak, akan dibawa kemanakan bangsa ini kelak kalau generasi mudanya seperti ini. Dimulai dari saat kecil, walaupun sepele, sebuah lirik dan lagu dapat memberikan suatu sugesti kepada otak si kecil. Semakin sering dinyanyikan, semakin ingat, semakin kuat sugestinya, hal inipun akan mempengaruhi pola pikir anak usia dini. Pendewasaan yang terlalu dini dan tidak sesuai dengan semestinya.

Bahkan anak – anak SD pun bicaranya sudah, maaf “kotor”, dalam artian saat ini bukan lagi kotor hewan melainkan sudah masuk ke taraf seksual. Efek tontonan dan pergaulan yang tidak semestinya akan menurunkan mental seorang anak. Siswa SMA bahkan lebih parah, banyak pemberitaan hubungan suami – isteri antar pelajar SMA. Coba anda pikir! Itukah mental bangsa Indonesia, mental Seorang muslim/muslimah? Mental orang terpelajarkah?.  Internet salah satu media yang kerap menjadi perataranya. Apakah tidak ada pengawalan situs – situs seperti itu. Apakah tidak ada undang – undang yang melarangnya. Apakah MUI tidak mengharamkan

situs – situs tersebut?. Apakah orang tua tidak memabatasi informasi yang masuk pada anaknya?. Sungguh generasi muda saat ini sudah terserang oleh virus nirmiliter dari negara x (saya tidak mau menyebutkan negaranya). Kalau anda sudah masuk ke jajaran atau berinteraksi dengan lingkungan militer, intel ataupun departemen pertahanan. Hal ini sangat serius dibicarakan. Ancaman terbesar saat ini bukanlah masalah alutsista, bukan masalah kedaulatan teritorial, bukan masalah canggih tidaknya peralatan yang dimiliki. Namun MENTAL! Saya tekankan MENTAL! Bangsa ini.

Serangan nirmiliter dari negara-x awalnya sudah berhasil meracuni petinggi – petinggi negara yang seharusnya menjadi pelayan rakyat, kehilangan jiwa nasionalisme dan tujuan negara ini didirikan oleh bapak – ibu terdahulu. Korupsi, kolusi nepotisme merajalela, petinggi negara saling tolong menolong dalam mengamankan posisinya disertai penumpukan harta kekayaan yang notabene didapatkan dari hasil korupsi. Bagi mereka harta sudah menjadi momok, materialisme dinomorsatukan. Lupa akan tanggung jawabnya sekarang kepada negara, kepada rakyat ataupun nanti kepada Allah SWT.

Nah, serangan itu kini sudah bahkan sukses meracuni pikiran dari generasi muda saat ini. Tak tanggung – tanggung anak kecilpun jadi sasaran. Ingatkah bangsa yang besar? Apakah karena SDA nya yang melimpah? Tidak!. Apakah karena wilayahnya yang besar? Tidak pula! Apakah karena umurnya? Tidak juga! Lalu apa?, kualitas para pelayan rakyat, kualitas rakyat sungguh sangat berarti bagi bangsa ini. Bukti kejayaan Nabi Muhammad dan umatnya semasa itu yang sungguh tekun dalam memegang prinsip Islam, sungguh sangat cukup sebagai contoh[IYN].