Suatu hari, sang burung merasakan ada yang aneh dibawah perutnya

Telur yang dieraminya bergerak-gerak..

Ya… sebentar lagi ketiga telurnya menetas…

Ya.. gerakannya mulai kencang

Tampak paruh-paruh runding memecah cangkang

Dan akhirnya, burung kecil itupun menyembulkan kepalanya

Dan melihat ke arah sang ibu.. ooh alangkah menggemaskannya

Mencicit tak henti-henti..

Dan keluar dari rumah putih mungil ovalnya itu

Sang ibupun mengeluarkan makanan dari bagian dalam paruhnya

Dan disuapinya burung-burung kecil itu sampai kenyang

Dan tertidur pulas

Beberapa hari kemudian, saat dirasa anak-anak burung sudah siap untuk terbang

Sang ibupun menuntunnya, menuju tepi dahan

Dan memberikan contohnya…diikuti kedua anaknya..

Walaupun jatuh bangun, sakit dirasa, berkali-kali terseok di tanah

Seketika itu juga mereka bangkit dan mengulanginya

Dengan dibantu ibunya dengan sabar.

Ada satu lagi anak burung, yang ketiga..dia tak mau mengikuti mereka

Hanya bertengger di atas dahan sambil menertawakan keduanya

Sesekali kembali ke sarang dan kembali tidur

Berulang kali, anak burung itu tak mau ikut

Alasannya karena takut dan juga tak akan akan ada apa-apa di sarang

Karena hewan-hewan pemakan daging itu ada dibawah sana

Ibunya tak bisa berkata lagi, sudah letih dinasihatinya

Saat kedua anaknya yang lain sudah agak mahir untuk terbang

Anak yang satu ini hanya diam dalam sarang

Tak ada usaha untuk melawan rasa takut

Tak ada kemauan untuk mengendalikan rasa takut

Dan hanya berpikiran serasa hidupnya akan lurus-lurus saja…

Suatu ketika sang ibu kembali menyuruhnya untuk belajar terbang

Sang anakpun dengan santainya kembali berargumen

Argumen yang sama saja seperti sebelum-sebelumnya

“untuk apa, toh para pemakan daging itu hanya ada di…..SRAAK”

Tiba-tiba menyembul kepala ular yang sedari tadi tertutup dedaunan

Dengan perlahan tapi pasti mengambil ancang-ancang untuk menerkam burung kecil itu

Tak ayal, saking kagetnya dengan sesegera ketiga burung, ibu dan anak itu terbang menjauh

Setelah dilihatnya hanya dua burung yang mengiringinya

Sang ibu pun baru sadar kalau anaknya yang satunya masih tertinggal

Dan tak bisa kemana-mana kecuali …. Tetap di pohon dan dimakan ular

Atau terjun dari ketinggian 100 meter dan mati

Sang ibupun tak tega melihat kesudahan anaknya

Dia tak dapat berbuat apa-apa sekarang

Dia memalingkan muka, tak tega melihat anaknya itu

Dan terbang menjauh mencari dahan baru

Untuk sarang yang baru….

Wahai burung kecilku..

Alangkah indahnya jika saat itu kau turuti nasihat ibumu…

Melawan rasa takut untuk jadi pribadi yang luar biasa