Sedangkan dalam ESQ, kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk member makna spiritual terhadap pemikiran, perilaku dan kegiatan, serta mampu menyinergikan IQ, EQ dan SQ secara komprehensif. Saya akan berikan contoh:

Erwyn bekerja di sebuah perusahaan otomotif sebagai seorang buruh. Tugasnya memasang dan mengencangkan baut pada jok pengemudi. Itulah tugas rutin yang sudah dikerjakannya selama hampir sepuluh tahun. Karena pendidikannya hanya setingkat SLTP, maka sulit  baginya untuk meraih posisi puncak.

Saya pernah berkata kepada Erwyn, “bukankah itu suatu pekerjaan yang sangat membosankan?”.

Ia menjawab dengan tersenyum, “tidakkah ini pekerjaan mulia, saya telah menyelamatkan ribuan orang yang mengemudikan mobil-mobil ini? Saya mengencang-kuatkan seluruh kursi pengemudi yang mereka duduki, sehingga mereka sekeluarga selamat, termasuk kursi mobil yang anda duduki itu”.

Esok harinya saya mendatangi Erwyn lagi. Saya bertanya lagi, “Mengapa anda bekerja begitu giat, upah Anda, kan tidak besar? Mengapa anda tidak melakukan mogok kerja saja seperti yang lain untuk menuntut kenaikan upah?”

Ia memandangi mata saya, masih dengan senyum dan menjawab, “saya memang senang dengan kenaikan upah seperti teman-teman yang lain, tapi saya pun memahami bahwa keadaan ekonomi memang sedang sulit dan perusahaan pun terkena imbasnya. Saya memahami keadaan pimpinan perusahaan yang juga tentu sedang dalam kesulitan, bahkan terancam pemotongan gaji seperti saya. Jadi kalau saya mogok kerja, maka itu hanya akan memperberat masalah mereka, masalah saya juga”

Lalu ia melanjutkan pembicaraan sambil tersenyum, “saya bekerja, karena prinsip saya adalah ‘memberi’, bukan untuk perusahaan, namun lebih keada pengabdian bagi Tuhan saya.”

Erwyn mampu memaknai pekerjaannya sebagai ibadah, demi kepentingan umat manusia dan Tuhan yang sangat dicintainya. Ia berpikir secara Integralistik dan memahami kondisi perusahaan secara keseluruhan, situasi ekonomi, dan masalah atasannya, dalam satu kesatuan yang integral.  Erwyn berprinsip dari dalam, bukan dari luar, ia tidak terpengaruh oleh lingkungannya. Erwyn adalah seorang raja atas jiwanya sendiri yang bebas merdeka. Sebuah penggabungan atau sinergi antara rasionalitas (IQ dan EQ) dan kepentingan spiritual (SQ). Hasilnya adalah kebahagiaan dan kedamaian pada jiwa Erwyn, sekaligus etos kerja Erwyn yang tinggi tak terbatas. Ia menjadi aset perusahaan yang sangat penting dan “rahmatan lil ‘alamin” bagi sekitarnya.

Take time to THINK. It is the source of power

Take time to READ. It is the foundation of wisdom

Take time to QUIET. It is the opportunity to seek God

Take time to DREAM .It is the future made of

Take time to PRAY. It is the greatest power on earth

-Author unknown-


“ kemudian Ia memberinya bentuk (dengan perbandingan ukuran yang baik), dan meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Nya. Ia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan (perasaan) hati..” (Al Qur’an, Surah As Sadjah 32:9)

Penulis : Ary Ginanjar Agustian

Dikutip dari buku : ESQ (Emotional Spiritual Quotient), THE ESQ WAY 165, hal. 47-48.