Siang akan menjelang beberapa jam lagi, tetapi matahari sepertinya lebih suka bersembunyi di balik awan abu-abu yang menyelimuti langit kota ini, membuat suasana pukul 10 terasa seakan-akan pukul 17, temaram. Angin bertiup sepoi, berhawa dingin, sangat mendukung untuk kembali ke balik selimut menghangatkan badan. Hmm, atau, bagi yang tidak ingin bermalas-malasan, menghangatkan badan di cuaca seperti itu cukup dengan menyeruput teh, susu coklat, atau minuman hangat lainnya. Bagiku, teh hijau tawar yang diseduh dengan air yang benar-benar baru mendidih menjadi pilihan terbaik.

“Assalamu’alaikuum,” suara ibu terdengar dari pintu depan. Tidak lama, wajahnya muncul di balik pintu dapur, tangannya menjinjing beberapa plastik belanjaan.

“Wa’alaikumussalaam,” sahutku, “beli buah apa, Buk, beli buah apa?” tanyaku tidak sabar. Asupan buah yang kurang akhir-akhir ini membuatku memesan khusus buah (apapun) pada ibu sebelum ia berangkat ke warung untuk berbelanja.

“Adanya cuma ini, In..” jawabnya sambil mengeluarkan seplastik buah agak bulat berwarna ungu kehitaman, dengan semacam tangkai berkelopak hijau kekuningan di atasnya; manggis.

“Hoo..” jawabku kurang antusias, “yaudah deh, makasih ya, Buuk.”

“Iya, kayaknya yang lagi musim buah manggis,” jawab ibu. Lalu beliau melanjutkan memasak bahan-bahan yang baru dibelinya.

Jujur, manggis bukanlah buah kesukaanku. Beda jauh dengan mangga, padahal cuma beda akhirannya, -is dan –a. Tidak seperti hipotesis dan hipotesa, yang mirip-mirip maksudnya, meskipun salah satunya adalah Bahasa Indonesia yang salah. Kalau mangga dengan manggis? Yakin deh, dengan meraba saja sudah bisa dibedakan.

Baiklaah, maaf saya sedikit ngawur. Hehe. Yap, saya tidap begitu suka manggis, bagi saya buahnya boros kulit, meskipun cukup mudah dikupasnya. Daging buahnya lunak namun berserat dengan rasa manis asam. Lalu, yang paling membuat saya kurang suka, jika bagian daging buah yang ukuran bijinya besar, tambah susah lagi makannya. Daging buahnya cuma bisa diemut-emut, lalu dibuang sisanya, dengan bagian daging yang masih menempel erat di bijinya.

Meskipun begitu, akhirnya, disinilah saya, duduk di meja makan, dengan beberapa buah manggis berderet untuk memasuki perut saya. Hehehe. Yaaa, lebih baik daripada tidak makan buah sama sekali.

‘Krek!’ suara kulit manggis yang keras retak terbuka. Lalu saya pilih daging buahnya yang besar terlebih dulu. Hmm.. enak sih sebenarnya.. tapi bijinya ini, lhoo. Sayang kan daging buahnya yang nempel di bijii. Dengan gemas saya emut lagi bijinya, agak saya gigit-gigit.

Lalu, sesuatu terjadi.

(Hmm, jangan berharap sesuatu yang hebat, saya aja yang lebay. Hehehe.)

Eh.. kok.. di daging buah itu terbuka suatu lapisan yang agak kasar? Jadi seperti buah rambutan.. Eeh..

Saya ikuti lapisan itu, srrt srrt.. daan.. voila! Teraba di lidah bijinya bisa bersih! Woow.. saya takjub.

“Ibuk! Ternyata manggis bijinya bisa kayak gini yaa??” tanyaku dengan penuh rasa takjub, dengan tidak lupa menunjukkan biji yang saya keluarkan dari mulut saya.

Dengan ekspresi heran bercampur geli, ibu menjawab, “Looh, kamu baru tau??”

“Emang ibu udah tau dari dulu??”

“Iya atuuh..” jawab ibu sambil tertawa geli.

Apuaaa, masa’ saya baru tauu?? Pikir saya dalam hati, mm.. sebenarnya itu dilebih-lebihkan beberapa kali lipat. Hehe.

Kenyataan itu cukup mengusik pikiran saya beberapa saat. Tetapi, manggis-manggis yang sudah mengantri untuk saya nikmati itu lebih mendominasi pikiran saya. Saya ambil satu persatu buah manggis bulat ungu itu dari mangkuk di meja. Saya tengok bagian bawah dari tiap buah manggis sebelum saya pilih. Buat apa? Tentu untuk menghitung berapa jumlah biji dan bagian buah di dalamnya berdasarkan tanda di bagian bawah kulit buah manggisnya. Hmm…

“Ibuk, kalau dipikir-pikir, keren yaa, buah manggis jumlah bijinya bisa dilihat dari luar.. Subhanallaah..”

“Itu bener tho? Ibu baru tahu kemarin-kemarin, dikasih tau Dede,” jawab ibu, yang langsung mengundang keherananku.

“Lhooooh?? Beneran ibu baru tahu?” kali ini giliran aku yang heran sekaligus geli.


Kejadian yang sepele di satu pagi itu menyadarkan saya akan sesuatu, mengenai pentingnya mengulang, terutama dalam proses belajar. Belajar ilmu apaaa saja, bahkan belajar ilmu memakan buah manggis sekalipun. Hehehe. Salah satu alasannya, dari tiap proses pengulangan sangat mungkin terus ada ilmu, pengetahuan, pengertian, hal baru yang akan didapat. Juga dari pengulangan itu semakin ahli. Dari mengerti jadi memahami, bisa karena biasa, dari bisa menjadi lihai. Terlebih lagi, agar pengetahuan itu tetap diingat, tidak lupa, terlebih karena lupa adalah salah satu sifat dasar manusia.

Ah.. saya jadi ingat pelajaran-pelajaran di semester lalu yang tersimpan rapi di folder laptop. Dulu sih sudah bisa.. tapi sekarang, hmm..

Hap! Melalui buah manggis saya diingatkan untuk terus belajar, terus mengulang, tanpa mengenal umur karena proses belajar itu seumur hidup, untuk semua hal, bahkan untuk belajar memakan buah manggis sekalipun.

Maulidina Kurniawati, S.Ked.

Iklan