BEKERJA JUGA IBADAH, BEKERJA DAN ATAU BERWIRAUSAHA ITU PILIHAN
DSC_1902

Tulisan ini merupakan seri kedua dan lanjutan dari tulisan “Apa ‘sih’ yang bisa saya Berikan untuk negara ini”.


Saya bukan pengusaha, bukan pemuka agama Islam, bukan karyawan teladan, bukan manusia berprestasi, bukan mausia hebat atau manusia terpuji. Saya hanya seorang hamba yang melakukan hal sebisa saya untuk mencari nafkah yang halal, baik itu dengan bekerja dan atau berwirausaha. Dalam awal bekerja, saya juga pernah melakukan kesalahan yang mungkin memang tak termaafkan, dan jika hanya dilihat dari permukaan itu merupakan hal yang bisa dibilang kurang ajar. Namun beberapa orang mencoba untuk melihat lebih dekat, dan mau memakluminya. Termasuk salah satunya adalah manajer saya di S*nbe F*rma, orang yang paling dapat maklum dan paling baik yang pernah saya temui saat itu walaupun beliau paling dirugikan, bahkan beliau masih menanyakan keadaan saya. Seandainya saya diberi kesempatan kedua maka saya benar-benar ingin membantu apapun dalam meringankan pekerjaan beliau, seberat apapun yang dihadapi. Beliau menurut saya, saat itu, adalah contoh seorang pemimpin, bukan hanya seorang pimpinan. Penghargaan tinggi saya untuk beliau bapak Effendy.

Kembali lagi ke pembahasan, setiap pengalaman yang kita dapatkan adalah sesuatu yang sangat berharga. Menjadikan toleransi semakin meningkat, merubah pola pikir sempit dan memperluas pandangan terhadap berbagai hal.

Sebelumnya saya ucapkan Selamat berlibur di tanggal merah 14 Oktober 2015, atau tahun baru Islam 1 Muharram 1437 H, selamat melakukan aktivitas masing-masing. Saya tidak mengucapkan selamat tahun baru, karena pemahaman saya bahwa tahun baru dalam islam adalah hanya pergantian tahun ke tahun, bukan ritual ucapan yang harus disampaikan. Muhasabah (perenungan) juga tidak hanya dilakukan setahun sekali, namun setiap hari / setiap saat. Kembali lagi, itulah pilihan saya dan tulisan saya kali ini juga mengenai pilihan kita masing-masing.  Tulisan sederhana saya kali ini masih berkaitan dengan tulisan pertama saya, namun dengan bahasan yang agak berbeda yaitu tentang bekerja dan melakukan pekerjaan sepenuh hati.

“Setinggi apapun pangkat yang dimiliki, anda tetap seorang pegawai. Sekecil apapun usaha yang anda punya, anda adalah BOS nya[1]”

Apakah kita familiar dengan kalimat itu? Ya, kalimat itu adalah salah satu kutipan dari perkataan seorang pengusaha yang cukup populer di Indonesia. Tidak jarang kita menemui kutipan tersebut di gambar yang di share oleh teman-teman kita. Bagaimana dengan saudara/saudari, setuju dengan kutipan tersebut?. Saya pribadi setuju dengan kalimat tersebut, namun tanpa ditambah-tambahi “bumbu” lainnya. Bagi yang setuju adalah hak mereka untuk setuju, begitu juga bagi yang tidak setuju adalah hak mereka untuk tidak setuju. Yang tidak boleh kita lakukan adalah memaksakan pendapat oleh pihak yang setuju ke pihak yang tidak setuju, begitu juga sebaliknya.

Saya setuju dengan kalimat tersebut, karena kalimat tersebut memang benar adanya. Esensi kalimat tersebut adalah, seorang yang bekerja adalah seorang pegawai. Seorang yang berwirausaha adalah seorang bos. TITIK, cukup sampai di situ saja, saya tidak mau menambah bumbu lain dibelakangnya. Namun jika saya ditanya, apakah saya setuju dengan arti kalimat itu (pesan yang disampaikan beliau), maka saya katakan saya TIDAK SETUJU. Kembali, itu adalah pilihan saya.

Seorang memiliki pilihan hidup sendiri untuk mencari nafkah, baik dengan bekerja kepada orang lain, berwirausaha sendiri, maupun keduanya. Kita tidak boleh mengatakan bahwa yang satunya lebih utama daripada yang lain. Dalam sautu kesempatan, KH. Abdullah Gymnastiar, atau lebih akrab disapa AA Gym mengatakan bahwa bekerja adalah ibadah[2]. Karena bekerja tujuan utamanya adalah mencari nafkah. Sedangkan mencari nafkah jika diniatkan ibadah maka akan bernilai ibadah di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan bekerja, kita dapat memperoleh hak kita yaitu gaji. Dengan gaji yang kita dapatkan, kita dapat membeli kebutuhan pokok dan tambahan, membantu orang lain yang kekurangan finansial, mencegah diri dari perbuatan haram dalam mencari rezeki, mencegah diri dari meminta-minta, dan banyak lainnya. Hal tersebut merupakan perbuatan kita yang bernilai pahala, tentu saja hal itu bernilai ibadah jika kita meniatkannya untuk ibadah. Dalam bekerja, uang bukanlah tujuan. Uang adalah sarana mencapai tujuan utama kita, yaitu ibadah. Seorang pengusaha yang berhasil, melakukan usaha dengan efektif, menghasilkan laba bersih yang tinggi juga merupakan seorang yang beribadah, jika diniatkan untuk ibadah.

Kembali lagi, bekerja maupun berusaha adalah pilihan. Jangan kita menganggap remeh seorang yang bekerja, khususnya untuk kita yang mengagungkan berwirausaha, apalagi banyak pintu rejeki mayoritas adalah dengan berdagang. Seorang pengusaha sukses yang sombong dengan kesuksesannya dan menganggap rendah pekerja, bukanlah contoh yang baik. Seorang pekerja yang sombong dengan pendapatan dan jabatannya, bukanlah contoh yang baik. Baik seseorang itu bekerja maupun berwirausaha, hal itu merupakan pilihan masing-masing dan kita wajib menghormatinya.

Bahasan mengenai Bill Gates, pendiri Microsoft, yang di masa lalunya Drop Out dari kuliah juga merupakan bahasan yang tak kunjung habis. Banyak orang menganggap kuliah itu tidak penting, kuliah itu menghabiskan waktu. Namun kita tidak melihat sisi lain dari Bill Gates yaitu berbagai kesulitan yang beliau hadapi. Kita terbiasa membaca kisah sukses namun tidak banyak membaca kegagalan yang telah dilakukan orang sukses (finansial) tersebut. Bill Gates sendiri mengatakan hal seperti ini :

“Although I dropped out of college and got lucky pursuing a career in software, getting a degree is a much surer path to succes[3].”

Artinya kurang lebih seperti ini : walaupun saya dikeluarkan/terkena drop out dari kampus dan dengan beruntung menggapai (keberhasilan) karier di bidang software, namun berkuliah adalah jalan yang jauh lebih pasti untuk sukses (finansial). Jadi janganlah jadikan drop out  sebagai acuan sukses, karena seorang yang drop out dan sukses, malah mengatakan hal demikian. Saya tidak mengkritisi orang yang menganggap seorang yang tidak drop out itu adalah orang yang tidak akan sesukses Bill Gates, namun saya mengkritisi orang yang menganggap kesuksesan hanya dilihat dari apakah dia berkuliah atau tidak, dan dari dropped out or not, apalagi menganggap bahwa seorang penghusaha lebih baik dari seorang pekerja.

Passion, bahasan mengenai hal ini memang banyak menimbulkan pro dan kontra. Bekerja sesuai passion atau bekerja tanpa sesuai passion. Itu merupakan pilihan setiap orang. Memang dengan bekerja sesuai kegemaran, seseorang akan merasa senang dan dapat menikmati pekerjaannya. Namun, bukan berarti seseorang yang bekerja di suatu tempat dan tidak sesuai dengan kegemarannya adalah hal yang salah. Barangkali seorang yang menggeluti kegemarannya dan sukses, tidak lebih mulia dari seorang yang bekerja dengan susah payah untuk mencari nafkah, walaupun itu bukan kegemarannya.

Sebagai contoh, dalam industri Farmasi atau manufaktur lainnya, seseorang dengan keterbatasan pengetahuan yang dia miliki, tekanan kerja, dan lagi bukan suatu hal yang disukainya, namun dia tetap melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya adalah seorang yang kita harus apresiasi. Dia menjamin pekerjaannya dilakukan dengan benar, sesuai prosedur, menjaga kualitas produk, menjaga kebenaran proses, dan muaranya adalah produk yang dihasilkan berkualitas, demi konsumen yang akan menggunakan, terlebih lagi hal itu diniatkan untuk ibadah, walau dia tidak menyukai pekerjaannya saat itu.

Maka, baik seorang itu mencari nafkah dengan bekerja ataupun berwirausaha, hal itu adalah pilihan. Seorang menjadi direktur, manager, penjual sayur, tukang reparasi, tukang becak, dan lain sebagainya, hal itu adalah pekerjaan masing-masing dan hal itu HALAL selagi dilakukan dengan benar. Maka tidak dibenarkan kita meremehkan orang lain, karena bisa jadi orang yang kita remehkan LEBIH BAIK di sisi Allah daripada kita. Dan lebih berkontribusi dengan ikhlas untuk lingkungan dan Negara kita.

Surakarta, 14 Oktober 2015

Apapun Pekerjaanmu, kerjakanlah dengan sebaik-baiknya, dengan cara yang sebenar-benarnya, lillahita’ala

Tulisan ini merupakan seri kedua dan lanjutan dari tulisan “Apa ‘sih’ yang bisa saya Berikan untuk negara ini”.

Referensi:

[1] https://twitter.com/BOBSADlNO/status/557475210077556736

[2] https://www.youtube.com/watch?v=0dSi6KKLE5Q 

[3] http://www.gatesnotes.com/Education/11-Million-College-Grads