Pagi 21 mei 2016, pukul 08.00 saya menaiki kereta yang akan membawa saya dari Solo ke Jakarta untuk suatu acara. Berada di gerbong 7, penumpang cukup banyak namun tidak sampai penuh, ada dua orang turis dari negara lain duduk dua bangku didepan saya. Asik, guman saya.(lihat gambar)

DSC_0636-lite

Perjalanan dimulai, tidak ada kejadian berarti. Hingga pada siang hari, pintu gerbong yang saya naiki agak sedikit rusak (mungkin karena sering dibuka tutup), dan setelah saya amati, pengunci(penahan) pintu tersebut memang dalam kondisi yang kurang baik karena pintu seringkali tidak kencang menutup dan terkadang pintu terbuka saat goncangan agak keras. Sedikit penjelasan, penahan pintu seperti jika kita sedang memakai sabuk/gesper yang tidak memiliki lubang, atau seperti saat kita memasukkan kepala charger ke steker. Ada bagian dari pintu geser, yang jika pintu ditutup, akan bertemu dengan pengapit/penjepit pada sisi gawang/rumah pintu. Nah, penjepit inilah yang rusak sehingga pintu tidak kencang menutup. Bagi saya, untuk kereta eksekutif, hal tersebut menjadi suatu hal yang kurang baik. (lihat gambar, bagan pojok kiri atas)

Selama kereta berjalan, beberapa kali petugas kereta datang dan pergi, beberapa penumpang juga keluar-masuk toilet, dan beberapa kali pintu tidak menutup sempurna. Kita tahu, kalau pintu membuka pasti suara dari luar akan masuk ke dalam gerbong dan itu adalah hal yang cukup menyebalkan. Saya juga cukup terganggu dengan suara tersebut. Saya tunggu teman-teman yang duduk di depan, namun tidak ada yang tergerak menutup pintu kereta. Karena tidak ada yang tergerak menutup pintu, maka saya beberapa kali maju (sekaligus ke kamar mandi) untuk menutup pintu.

*flashback*

Suatu hari saya baru membeli paket internet dengan kuota banyak namun murah, lalu saya buka youtube dan menonton beberapa video. Tidak sadar saya klik-klik link yang ada, hingga suatu ketika saya melihat video-video social experiment, baik yang dilakukan oleh stasiun televisi maupun oleh orang-orang (youtubers). Kalau tidak salah video social experiment di eropa. Banyak jika teman-teman mau mencari di youtube. Saya terkesan dengan kultur mereka yang memiliki kepekaan tinggi terhadap lingkungan mereka. Mungkin sama dengan yang pernah diajarkan guru-guru saya sewaktu sekolah, atau bukan, saya belum betul-betul paham, yaitu common sense.

Kembali lagi ke kereta, ketika di pertengahan jalan, pintu berkali-kali terbuka dan petugas yang hilir mudik hanya melewati pintu namun tidak menutupnya dengan rapat, kemudian seorang turis tersebut, mengecek penjepit pintu, mencoba-coba untuk memperbaikinya. Dan hal itu tidak dilakukan sekali, namun beberapa kali. Sesuatu yang sudah saya duga akan terjadi sebelumnya, karena sejak kereta berangkat, saya sering mengawasi “gerak-gerik” turis tersebut. Ya, saya tidak menggeneralisir, namun prosentase turis yang selama ini saya temui, lebih banyak yang berkelakuan baik daripada yang tidak. Atau hanya kebetulan saya sering bertemu yang baik, wallahua’lam.

Ya, jadi sejak kereta berangkat, saya sering memperhatikan attitude mereka. Mereka seringkali membagi waktu untuk istirahat, membaca, makan dan sebagainya. Mereka duduk dengan sopan. Mereka peka terhadap lingkungan sekitarnya, tidak malu bertanya, kooperatif dan tidak mengganggu sekitar, terlepas dari sisi baik-buruk pasti dimiliki setiap orang.

Kembali ke pintu. Beberapa kali turis tersebut (yang kira-kira sudah agak berumur, sekitar 50 tahun) mencoba memperbaiki pintu, dan mencoba berbicara dengan kru kereta yang lewat. Setelah agak lama, beberapa kali, tidak ada hasil berarti, maka turis tersebut kembali ke bangku dan sesekali hanya menutup pintu yang tertutup. Hal yang mungkin sepele, namun inilah common sense yang kemudian diikuti beberapa orang yang duduk di bagian depan. Beberapa orang kemudian secara bergiliran menutup pintu kereta yang terbuka. Mungkin saja, kita yang berada di gerbong merasa malu, merasa dihantam persis di wajah, ketika orang luar negeri yang mungkin tidak perlu melakukan apapun dan tidak memiliki tanggung jawab apapun untuk negeri kita, namun mereka mau dan peka terhadap hal yang tidak beres. Sedangkan kita, tuan rumah, tidak melakukan apa-apa, bahkan “para pemilik” kereta pun tidak.

Walau tidak seluruh orang indonesia yang saya temui tidak peka, namun yang menjadi keprihatinan (termasuk teruntuk saya sendiri), bahwa kita seringkali apatis dan tidak memperhatikan lingkungan sekitar. Asal saya sudah enak disini, masa bodoh mau pintu rusak, nanti juga ada yang nutup. Mau buang sampah sembarangan, nanti juga ada petugas yang membersihkan. Mau ini, mau itu, nanti juga ada, nanti juga ada yang ini itu. Dan hal itu terbawa ke keseharian kita.

Manakah yang lebih efektif; menyewa petugas kebersihan untuk membersihkan 1 ton tumpukan sampah liar, atau bersama-sama memungut satu kresek sampah dan aktif menjaga kebersihan setiap saat, dari diri kita sendiri?

Manakah yang lebih efektif; membuat sistem terbaik dalam mendeteksi kebohongan, atau memiliki karyawan yang selalu jujur?

 

Seringkali kita melupakan hal kecil yang efektif, untuk melakukan hal besar yang tidak efektif. Seringkali juga menganggap sesuatu yang memakan waktu (proses/pondasi) dalam membangun sesuatu adalah tidak efektif. Seringkali kita juga hanya mementingkan hasil, mementingkan penampilan luar, ketimbang attitude dan moral. kita seringkali hanya melihat hasil, tanpa melihat proses. Yang saya percaya, attitude yang berkembang di masyarakat bukanlah hal instan, budaya yang baik itu butuh proses, dan siapa lagi yang akan memulainya jika bukan dari kita sendiri.

Pelajaran inilah yang saya dapat di kereta kala siang itu. Jadi apakah kita bisa lebih baik dari diri kita sekarang? jadi apakah saya bisa lebih baik?. Saya berharap bisa, dan saya berusaha. Dan kita juga pasti akan berusaha. Namun siapakah yang akan memulai? Tidak usah tengok kiri kanan, mulailah dari diri kita, khususnya diri saya sendiri. semoga kita semua diberi hidayah untuk selalu memperbaiki diri, dan diberi kesempatan untuk dapat memperbaikinya.