Banyak dari kita yangs sering menggunakan bawang putih untuk memasak, tanpanya masakan akan terasa kurang sedap. bawang ini biasa ditemui di sayur bening, beberapa sup, gorengan, tumisan, nasi goreng, bakmi goreng, dan sebagainya. Dengan adanya bawang ini, rasa masakan akan menjadi lebih enak dan gurih. namun siapa sangka, ada manfaat yang mungkin belum anda ketahui tentang bawang putih untuk mengobati beberapa penyakit

Artikel ini diambil dari penelitian oleh Udhi Eko Hernawan dan Ahmad Dwi Setyawan, FMIPA Biologi UNS Surakarta, namun tidak semua saya sebutkan, hanya beberapa yang familiar untuk kita, berikut rangkumannya:

Bawang putih (Alliu sativum L.) yan biasa kita gunakan adalah suatu umbi lapis dari tanaman bawang putih, termasuk dalam familia Liliaceae (Becker dan Bakhuizen van den Brink, 1963). Tanaman ini memiliki beberapa nama lokal, yaitu, dason putih (Minangkabau), bawang bodas (Sunda), bawang (Jawa Tengah), bhabang poote (Madura), kasuna (Bali), lasuna mawura (Minahasa), bawa badudo (Ternate), dan bawa fiufer (Irian Jaya) (Santoso, 2000; Heyne, 1987).

Sebagaimana kebanyakan tumbuhan lain, bawang putih mengandung lebih dari 100 metabolit sekunder yang secara biologi sangat berguna, senyawa ini yang paling memberikan efek akan rasa, aroma, dan sifat-sifat farmakologi bawang putih. ada dua senyawa organosulfur paling penting dalam umbi bawang putih, yaitu :

kandungan alium sativum/bawang putih
Senyawa Organosulfur tersebut antara lain dapat berfungsi untuk :
1. Anti Diabetes (Penyakit Gula/Kencing Manis)
Telah dilakukan penelitian secara in vivo Penelitian awal dilakukan oleh Mathew dan Augusti (1973), dengan melakukan isolasi allisin (perubahan dari aliin-2) dan memberikannya pada tikus diabetes. Pada perlakuan dengan dosis 250 mg/kb BB, diketahui allisin mampu menurunkan kadar glukosa darah 60% lebih efektif daripada tolbutamid (salah satu obat anti diabetes).
Selanjutnya, Augusti (1975) memberi perlakuan ekstrak umbi bawang putih pada kelinci yang diinduksi diabetes menggunakan alloksan. Allisin dari ekstrak umbi bawang putih dapat menurunkan kadar glukosa darah kelinci seperti halnya tolbutamid. Pada perkembangan berikutnya, semua penelitian yang mengkaji efek hipoglikemik umbi bawang putih menunjukkan hasil posiitif (Banerjee dan Maulik, 2002)
2. Anti Hipertensi (Darah Tinggi)
Penelitian awal tentang efek hipotensif (penuruan tekanan darah) dari ekstrak umbi bawang putih dilakukan oleh Foushee et al. (1982). Ekstrak umbi bawang putih dengan dosis 2,4 g/individu/hari mampu menurunkan tekanan darah penderita hipertensi. Penurunan tekanan darah muncul 5–14 jam setelah pemberian ekstrak. Ekstrak tersebut mengandung allisin 1,3%.
Penelitian juga menunjukkan bahwa pemanfaatan umbi bawang putih dalam bumbu masakan dapat menekan peluang terkena hipertensi. Rata-rata konsumsi umbi bawang putih 134 gram per bulan dianjurkan untuk mencegah hipertensi (Qidwai et al., 2000).
3. Antioksidan 
Oksidasi merupakan faktor utama dalam enuaan dini, lebih khusus karena adanya oksidasi DNA, protein, lemak. Oksidasi ini diakibatkan oleh oksigen yang reaktif. untuk mencegah oksidasi, digunakanlah senyawa antioksidan. dari berbagai penelitian in vitro, ekstrak umbi bawang putih diketahui memilki aktivitas anti-oksidatif
4. Anti Hiperlipidemia (Kolesterol)
Suatu keadaan dimana kadar lemak dalam darah mengalami kenaikan melebihi batas normal disebut hiperlipidaemia. Keadaan ini biasa dihadapi oleh seseorang yang mengalami masalah kegemukan. Hiperlipidaemia meliputi dua kondisi yaitu, hiperkolesterolaemia (kolesterol tinggi) dan hipertrigliseridaemia (trigliserida tinggi). Keduanya memicu atherosklerosis dan mempertinggi resiko penyakit kardiovaskuler
Penelitian yang menguji khasiat umbi bawang putih untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah telah dilakukan pada hewan percobaan dan manusia. Salah satunya adalah pemberian ekstrak umbi bawang putih dengan kandungan 10 mg alliin  dan/atau 4000 mikrogram allisin dapat menurunkan kadar kolesterol total serum antara 10-12%; kolesterol LDL turun sekitar 15%; kolesterol HDL naik sekitar 10%; dan trigliserida turun 15%
5. Anti Mikroba 
Umbi bawang putih berpotensi sebagai agen anti-mikrobia. Kemampuannya menghambat pertumbuhan mikrobia sangat luas, mencakup virus, bakteri, protozoa, dan jamur. tentunya preparasi (penyiapan/pembuatan) juga berpengaruh terhadap aktivitas antimikroba tersebut. Sebelum menggunakan, pelajari dahulu cara penyiapannya.
khasiat antimikroba bawang putih allium sativum
Demikian sedikit penjelasan tentang bawang putih, untuk lebih lengkapnya anda dapat melihat dan membaca langsung di sumber yang saya cantumkan di bawah. terima kasih, semoga bermanfaat.
Sumber :
Hernawan, U.E. & Setyawan, A.D., Review: Senyawa Organosulfur Bawang Putih (Allium sativum L.) dan Aktivitas Biologinya. Biofarmasi Vol. 1, No. 2, Agustus 2003, hal. 65-76.
Iklan