[Berdasarkan kisah nyata sembuh dari diabetes]

Tulisan ini hanya akan sedikit membahas bahaya diabetes, untuk informasi lebih akurat tentang bahaya diabetes, silahkan bertanya ke sanak saudara yang terkena, atau tenaga kesehatan.

 

Pendahuluan

Diabetes? (Diabetes Melitus) Apa itu? Mungkin tidak semua orang memahami istilah Diabetes. Diabetes adalah istilah ilmiah dari Kencing Manis. Istilah Kencing Manis inilah yang sejak dahulu banyak dipahami oleh masyarakat.

Diabetes mellitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi, yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin (WHO, 1999).

Capture
Tabel glukosa plasma darah dan kategori diagnosanya

Tabel di atas adalah tabel glukosa normal dan glukosa penderita diabetes. Untuk penegakkan diagnosis, salah satu parameter yang digunakan adalah kadar glukosa pada plasma darah. Terlihat, glukosa darah normal adalah <100 mg/dL pada kondisi puasa, dan <140 mg/dL pada kondisi 2jam setelah makan/normal. Sedangkan, diagnosa diabetes positif jika kadar glukosa darah > 126 mg/ dL pada kondisi puasa, dan > 200 mg/dL pada kondisi 2 jam setelah makan/normal. Tentunya banyak faktor lain yang menjadi pertimbangan dokter dalam mendiagnosa, kadar glukosa dalam plasma adalah salah satunya, untuk lebih jelasnya silahkan tanyakan kepada Dokter anda.

 

Apakah berbahaya?

Penyakit DM memiliki banyak kategori/klasifikasi tergantung penyebabnya. Penyakit ini termasuk kedalam penyakit yang kronis. Walaupun Diabetes mellitus merupakan penyakit kronik yang tidak menyebabkan kematian secara langsung, tetapi dapat berakibat fatal bila pengelolaannya tidak tepat. Gejalanya antara lain adalah: sering buang air kecil, cepat lelah, , lebih mudah terkena infeksi, sukar sembuh dari luka, daya penglihatan makin buruk, dan umumnya menderita hipertensi, hiperlipidemia, obesitas, dan juga komplikasi pada pembuluh darah dan syaraf.

 

Baca juga: Beda Penyakit Kronis dan Akut (Sedang disusun)

Setiap orang memiliki potensi terkena DM. Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang terkena DM, antara lain adalah : Riwayat Keluarga, Obesitas, Konsumsi yang tidak sehat (Konsumsi Gula di atas batas normal), Hiperlipidemia (Lipid diatas batas normal), kurang olah raga, pola makan rendah serat, dan sebagainya.

 

Madu? Amankah? Bukankah isinya juga gula?

Benar sekali, madu juga memiliki komposisi mayoritas (hampir seluruhnya) berupa gula. Namun gula yang terkandung dalam madu tidak seluruhnya seperti yang gula pasir.

Madu adalah cairan kental dan manis, berasal dari nektar tanaman yang diproses oleh lebah, dan kemudian disimpan dalam sarang. Komposisi madu dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti faktor geografis, sumber nektar, kondisi lingkungan dan iklim, serta teknik pengolahan dalam mendapat madu. Walaupun begitu, komposisi yang terbanyak tetaplah karbohidrat(akan diubah menjadi gula sederhana). Selain itu, madu memiliki kandungan lain seperti protein, vitamin, mineral, asam amino, polifenol dan sebagainya.

Madu memiliki indeks glikemik yang rendah dibanding dengan gula-gula sederhana lainnya. Madu dengan kadar fruktosa yang tinggi memiliki indeks glikemik yang rendah

honey-1006972_1280 lite

Tentunya madu aman bagi penderita diabetes selagi pemakaiannya tidak berlebihan

 

Madu aman untuk penderita diabetes selagi pemakaiannya tidak berlebihan. Hal ini berlaku untuk seluruh makanan, jika digunakan dalam kadar yang cukup maka akan bermanfaat, jika berlebihan maka tidak baik untuk tubuh.

Bagi penderita diabetes, semakin parah penyakit maka pemakaian madu juga harus lebih ketat.

Kisah penderita diabetes yang sembuh dari diabetesnya

Terdapat seorang bapak yang memiliki kadar glukosa tinggi, dan gejala yang menyertainya. Diagnosa dokter positif diabetes. Kemudian, bapak tersebut melakukan diet ketat, dengan menghindari konsumsi gula pasir dan makanan-makanan tidak sehat.

Bapak tersebut mengkonsumsi buah-buahan pada pagi hari, kemudian di siang hari mengkonsumsi sayur-sayuran dan herbal seperti habbatussuda dan sebagainya. Tidak lupa juga sambil mengkonsumsi madu sambil berharap kesembuhan kepada Allah. Di malam hari juga menu makanannya tidak jauh beda, sayur, protein, daging dan buah.Tentunya madu yang digunakan adalah madu asli, bukan madu abal-abal.

 

Baca Juga : Mengenal Madu – Penyimpanan, Keaslian dan Manfaatnya (Masih disusun)

 

Bapak tersebut mempertahankan pola makan sehat, disertai dengan olah raga ringan saja, rutin di pagi hari, dengan memperbanyak jalan kaki, dan juga menambah konsumsi air putih. Menjaga keseimbangan dan kesehatan pikiran. Dan yang paling penting dari itu semua adalah, berharap kesembuhan HANYA kepada Allah.

Apa yang terjadi? Setelah beberapa bulan berlalu, dokter pun heran karena kondisi tubuh kembali normal, dan penyakit diabetes yang diderita dinyatakan sembuh. Walau tatalaksana terapi penyakit diabetes yang kita pelajadi di kuliah selama ini adalah bukan menyembuhkan, melainkan mayoritas hanya meningkatkan taraf hidup pasien (dengan menjaga kadar gula darah pada batas normal). 

Kebetulan saya langsung mendapat cerita dari yang bersangkutan. Dan dengan cerita ini (beserta beberapa cerita lain), saya jadi semakin percaya bahwa obat herbal dapat mendampingi obat konvensional (bukan menggantikan) dalam menyembuhkan berbagai penyakit.

Yang selalu ditekankan dalam ceritanya adalah beliau membuktikan bahwa madu boleh dikonsumsi penderita diabetes selagi dalam takaran yang tepat. Beliau pergi ke banyak dokter dan praktisi kesehatan lain, dan dilarang keras mengkonsumsi madu, “tidak boleh, pokoknya jangan, madu itu gula, nanti kadar gula nya naik”, kira kira seperti itu.

Banyak praktisi yang saya hormati juga berkata kepada saya, ”Jangan mendewakan guideline atau textbook, karena banyak hal yang belum kita ketahui, banyak ilmu yang belum kita temukan, banyak pengobatan yang kita belum kita buktikan. Jangan terlalu cepat berkata penyakit ini/itu tidak bisa sembuh, atau zat ini/itu tidak boleh/bisa untuk mengobati.” Dan hal tersebut membuat saya semakin mantap dengan pendirian saya, bahwa semua penyakit memiliki obat, namun kitalah yang belum mampu menemukannya (kecuali obat kematian). Seperti yang sudah dijelaskan dalam sabda Rasulullah ﷺ:

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” (HR Bukhari).

Imam Muslim ‘merekam’ sebuah hadits dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwasannya beliau bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءُ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ

 “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat untuk suatu penyakit, penyakit itu akan sembuh dengan seizin Allah ‘Azza wa Jalla.”

allah-1835630_1280 lite

Dan yang paling terpenting dari itu semua adalah, Hanya Allah yang dapat menyembuhkan. Dan inilah core sekaligus tujuan pengobatan, bertawakal kepada Allah setelah melakukan seluruh usaha untuk mengobati seseorang. Karena yang dapat menyembuhkan hanya Allah, manusia hanya dapat berusaha. Seperti dalam dalil berikut:

Allah berfirman menceritakan kekasih-Nya, Ibrahim ‘alaihissalam,

وَ إِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ

 “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” [QS Asy Syu’ara: 80]

Di surat Al An’am (ayat: 17), “Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.”

Sebagai muslim, saya harus tunduk patuh kepada ayat-ayat yang telah diturunkan Allah dalam Al Quran, walaupun memang dalam praktiknya kita sebagai manusia adalah tempatnya salah, namun sebisa mungkin tetap memenuhi yang kita bisa penuhi, sesuai derajat kemampuan kita.

Pengalaman di atas pula adalah salah satu dari banyak kisah yang saya dapatkan, bahwa ilmu manusia saat ini tidaklah ada artinya dengan Ilmu Allah. Ilmu pengobatan yang kita miliki hanyalah setitik kecil dari ilmu yang belum kita ketahui, belum kita temukan.

 

Baca Juga : Bekerja Juga IBADAH – Bekerja dan Atau Wirausaha itu Pilihan

 

Banyak kisah seseorang yang mengidap kanker stadium akhir, sembuh dengan menyedekahkan hartanya untuk membantu keluarga yang serba kekurangan. Belum lagi kaitan dengan Jin. Penyakit yang disebabkan oleh adanya Jin yang merasuk ke tubuh. Penyakit ain (mata panas) yang dapat membuat pingsan orang lain secara seketika. Pengobatan diabetes dengan herbal, pengobatan kanker dengan rebusan herbal, pengobatan penyakit kronis dengan habbatussauda, pengobatan penyakit jiwa dengan ruqyah syar’iah, dan banyak contoh lainnya yang tak terhitung.

Jika penyakit kita belum kunjung sembuh, maka bisa jadi hal itu adalah ujian bagi kita, sekaligus Rahmat Allah bagi kita. Menyikapi musibah dengan benar, akan mendatangkan pahala yang tidak disangka pahalanya. Melatih keikhlasan dan menjadi penggugur dosa-dosa kita yang sangat banyak, sambil terus berusaha dan berharap kesembuhan dari Allah hingga titik darah penghabisan.

Ingat, jika kita meninggal karena penyakit kita, hanya ada dua kemungkinan. Kita tidak menerima penyakit kita, mengeluh dan akhirnya hal itu menjadi kesia-siaan. Atau kita mengikhlaskan, mensyukuri dan bersabar, yang mana hal itu akan menjadi pelebur dosa dan mungkin Allah akan memasukkan ke dalam surga karena kesabaran dan keikhlasan kita. Tetap optimis dalam menggapai kesembuhan, sambil terus bertawakkal. Al Khair Khiratullah, yang terbaik adalah pilihan Allah.

Saya bukanlah orang yang pintar dalam hal kesehatan, tidak seperti teman-teman lainnya, atau adik-adik pembaca yang nantinya akan menentukan masa depan dengan (mungkin) masuk ke Fakultas Farmasi/Kedokteran. Oleh karena itu saya berharap kepada adik-adik dan teman-teman, semoga banyak kisah di sekitar kita tidak hanya menjadi kisah, namun dapat kita tuangkan menjadi Penelitian Ilmiah yang menjadi dasar perubahan paradigma dalam terapi penyakit DM ini pada khususnya, dan penyakit lain pada umumnya, dari paradigma tidak bisa sembuh, menjadi paradigma untuk optimis dapat menyembuhkan penyakit tersebut, tentunya dengan izin Allah.

 

Sumber:

– Praktek Kedokteran Nabi, Thibbun Nabawiy, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.

– Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Diabetes Melitus, Dirjen BinFar dan Alkes, 2005, Departemen Kesehatan. Download di: https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjKlKbS4MXSAhWIVrwKHUt-DCkQFgggMAA&url=http%3A%2F%2Fbinfar.kemkes.go.id%2F%3Fwpdmact%3Dprocess%26did%3DMTc2LmhvdGxpbms%3D&usg=AFQjCNExsQJ0exMovaVqtPk_kcrHxaTdPg&sig2=lWINVr_XXnfE1HEBmO6nKg

http://muslim.or.id/10924-dan-jika-aku-sakit-dialah-yang-menyembuhkanku.html

http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/viewFile/519/520

Untuk pelengkap, baca juga:

http://kesmas.unsoed.ac.id/sites/default/files/file-unggah/Dody%20Novrial-9.pdf

http://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/ea2d752faac6299167e3d717e4c8e45b.pdf

 

Penulis:

Indra Yudhawan, S.Farm., Apt. [email][linkedin][facebook][youtube]

 

 

Lihat Juga:

Iklan