(Kisah Nyata)

Tulisan ini berasal dari pengalaman saya mengobrol, berdialog dan berdiskusi dengan beragam kalangan. Ada yang masih mempercayai, ada yang sudah mengetahui yang benar, dan ada yang masih ragu-ragu.

Pernahkah kita mendengar cerita bahwa Kyai Fulan, Ustadz Fulan, Syaikh Fulan memiliki kelebihan karena keshalihan dan keistiqomahannya?

“Ustadz A, dapat terbang ke Mekkah dalam semalam dan kembali lagi ke tempat semula, punya ilmu ladunni dll.”

“Ustadz B, dapat berjalan di atas air, saya melihatnya sendiri”

“Syaikh C, tidak mempan dipukul atau disabet benda tajam”

“Kyai D, dapat menyembuhkan kesurupan hanya dengan mengusap muka yang kesurupan”

Dan banyak lainnya..

Saudara pasti telah banyak mendengar cerita-cerita tersebut, dan sudah tersebar di masyarakat. Hal-hal menakjubkan tersebut dapat dilakukan, padahal manusia normal tidak akan dapat melakukannya. Kelebihan tersebut didapat tidak sembarangan, harus melewati serangkaian ibadah yang tidak mudah, dan dengan keitiqomahan yang luar biasa, apakah benar seperti itu?

Tidak Benar.

Yang saya pahami, dan dengan penjelasan ustadz dan dari sahabat-sahabat, bahwasanya kelebihan tersebut bukanlah kelebihan yang diberikan oleh Allah. Kelebihan seseorang ada dua macam :

1

Kelebihan yang diberikan oleh Allah, berupa luasnya pengetahuan, pemahaman terhadap ilmu yang sangat baik, keagungan akhlak dan kesabaran yang tidak tertandingi oleh manusia lainnya.

2

Kelebihan yang ada (karena tipu daya syaitan), berupa kemampuan yang diluar nalar dan didapat dengan usaha tertentu/susah payah, namun juga tidak ada dalam syariat, seperti berjalan di atas air, terbang, menebak isi hati, melihat tanpa menggunakan mata, kebal fisik, dan lainnya.

Sayangnya seringkali kita tidak mengetahui hal tersebut karena keterbatasan ilmu yang kita miliki. Hal yang diluar nalar tersebut menurut kita adalah kelebihan. Pada dasarnya hal tersebut adalah tipu daya syaitan untuk menyesatkan manusia, dan melanggengkan praktik yang tidak sesuai dengan syariat, seperti apa? Berikut pengalaman nyata:

Seseorang sering shalat tahajud, ibadah dll. suatu hari dalam mimpinya didatangi oleh sesosok yang memakai sorban dan jubah putih, mengaku merupakan keturunan syaikh A, untuk melakukan perbuatan A, B, dll., untuk keselamatan dan keberkahan orang tersebut

Seseorang mendapatkan ilham/mimpi untuk mengunjungi kuburan seorang shalih, dan berdoa di kuburannya, meminta agar doanya diantar kepada Allah sehingga Allah mengabulkan doanya. Dan benar ternyata doanya dikabulkan.

Seseorang berguru kepada kyai, yang memakai pakaian jubah dan sorban. Beliau memberikan wejangan untuk menjaga sholat, merutinkan membaca bacaan tertentu yang berbahasa arab, menjauhi yang diharamkan, dll. Agar diberikan ilmu untuk kebal atau menguasai tenaga dalam tertentu

Dan kisah-kisah lainnya yang banyak ditemui di masyarakat

 

Sesungguhnya, kisah di atas nyata, dan itu adalah tipu daya Syaitan untuk menyesatkan manusia dari Tauhid yang Murni, dan secara perlahan membuat kita melakukan kesyirikan.

 Berikut Penjelasan Ustaz/kutipan dari situs yang saya percaya:

TAUHID

Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).

Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39). Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa Malaikat, para Nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, ”Ngalap berkah ke kuburan adalah haram dan termasuk syirik karena mayakini ada sesuatu yang bisa memberikan pengaruh sedangkan Allah tidak menurunkan penjelasan tentangnya. Orang-orang shalih pada zaman dahulu tidak pernah ngalap berkah seperti ini, dan disisi lain hal seperti itu juga merupakan amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apabila orang yang ngalap berkah tersebut meyakini bahwa penghuni kubur dapat memberikan pengaruh terhadapa apa yang dia inginkan, atau mampu menolak keburukan dan mendatangkan manfaat, maka keyakinan seperti ini adalah termasuk syirik akbar, dan termasuk syirik akbar juga apabila beribadah pada penghuni kubur dengan melakukan ruku’ dan sujud atau menyembah sebagai bentuk pendekatan dan pengagungan kepadanya.” (Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, Ibnu ‘Utsaimin)

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Barangsiapa menyembah Rabb yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatupun bukti baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabb-nya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (QS. Al Mu’minun : 117)

KARAMAH

Tentang karamah para wali, telah dibahas oleh para ulama Ahlus Sunnah karena ada golongan yang mengingkari tentang adanya karamah para wali. Mereka adalah golongan Mu’tazilah, Jahmiyyah dan sebagian dari Asy’ariyyah. Ada juga golongan yang ghuluw (berlebih-lebihan) dalam menetapkan karamah, mereka meyakini dan mengatakan bahwa setiap yang luar biasa adalah karamah, meskipun itu adalah sihir dan kedustaan. Mereka adalah golongan thariqat Shufiyyah dan penyembah kubur. Adapun Ahlus Sunnah menetapkan karamah para wali sesuai dengan ketentuan al-Qur-an dan Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang shahih.

Yang dimaksud dengan karamah adalah apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan melalui tangan para wali-Nya yang mukmin berupa keluarbiasaan, seperti ilmu, kekuasaan dan lainnya. Misalnya makanan yang Allah berikan kepada Maryam binti ‘Imran , naungan yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada ‘Usaid bin Hudhair ketika membaca Al-Qur-an , serta berita-berita mengenai para pemuka dari ummat ini, yaitu para Sahabat, Tabi’in dan generasi berikutnya dari ummat Islam. Karamah tersebut akan tetap ada pada umat ini sampai datangnya hari Kiamat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa wali-wali Allah itu tidak memiliki sesuatu yang membedakan mereka dengan manusia lainnya dari perkara-perkara dhahir yang hukumnya mubah seperti pakaian, potongan rambut atau kuku. Dan merekapun terkadang dijumpai sebagai ahli Al Qur’an, ilmu agama, jihad, pedagang, pengrajin atau para petani. (Disarikan dari Majmu’ Fatawa 11/194)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa tidak setiap wali itu harus memiliki karamah. Bahkan, wali Allah yang tidak memiliki karamah bisa jadi lebih utama daripada yang memilikinya. Oleh karena itu, karamah yang terjadi di kalangan para Tabi’in itu lebih banyak daripada di kalangan para Sahabat, padahal para Sahabat lebih tinggi derajatnya daripada para Tabi’in. (Disarikan dari Majmu’ Fatawa 11/283)

Karomah merupakan suatu pemberian dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang shalih dengan tanpa susah payah darinya, berbeda dengan perbuatan syaithon, maka ini terjadi dengan susah payah setelah sebelumnya ia berbuat syirik kepada Allah Ta’ala.

Karomah para wali tidak bisa disanggah atau dibatalkan dengan sesuatupun. Berbeda dengan perbuatan syaithon yang dapat dibatalkan dengan menyebut nama-nama Allah Ta’ala atau dibacakan ayat kursi atau yang semisalnya dari ayat-ayat Al Qur’an. Bahkan Syaikhul Islam menyebutkan bahwa ada seseorang yang terbang di atas udara kemudian datang seseorang dari Salafushshalih lalu dibacakan ayat kursi kepadanya maka seketika itu dia jatuh dan mati.

Karomah itu tidaklah menjadikan seseorang sombong dan merasa bangga diri, justru dengan adanya Karomah ini menjadikannya semakin bertaqwa kepada Allah dan semakin mensyukuri nikmat Allah Ta’ala. Adapun perbuatan syaithon bisa menjadikan seseorang bangga diri atau sombong dengan kemampuan yang dia miliki serta angkuh terhadap Allah Ta’ala, sehingga jelaslah bagi kita akan hakekat Karomah dan perbuatan syaithon.

Baik, selanjutnya dengan Logika :

Logika Pertama:

Jika dengan berdoa kepada kuburan orang Shalih dapat menyampaikan doa kita kepada Allah, lalu kenapa kita memilih mendatangi kuburan? Kenapa tidak mendatangi orang shalih yang masih hidup dan minta didoakan?

 

Logika Kedua

Jika orang yang shalih diberikan kelebihan-kelebihan oleh Allah, akibat dari keshalihan dan keistiqomahannya, maka siapakah yang paling berhak mendapat kelebihan tersebut?

Siapa yang paling berhak? Tentunya yang tershalih dan terbaik diantara kita, yaitu Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Logika Ketiga

Jika berjalan di atas air, terbang, kebal merupakan suatu kelebihan dari Allah. Lantas kenapa pada saat masa-masa awal islam, Rasulullah bersama para sahabat mengatur strategi, memakai pakaian pelindung, dan berperang dengan mendapat luka-luka, dan banyak juga yang mati syahid?

Jika kekebalan adalah  bukti keshalihan, berarti kemungkinannya adalah lawan perang lebih shalih sehingga lebih kebal dan berhasil membunuh para sahabat (tapi logika ini PASTI dan TENTU TIDAK BENAR) karena yang diperangi adalah orang kafir

Jika kekebalan adalah bukti keshalihan, kenapa para sahabat tidak kebal? Padahal lawan mereka adalah orang kafir yang islam saja bukan, apalagi shalih?

KESIMPULAN

Karamah yang diberikan oleh Allah kepada Wali Allah tidaklah terbatas pada kelebihan yang diluar nalar kemampuan manusia saja, melainkan dapat berupa apapun itu bisa berupa kekuasaan, ilmu, dan sebagainya (silahkan lihat di link)

Seorang wali bukan hanya yang memiliki karamah. Karamah dan tipu daya syaitan berbeda, jangan hanya melihat dari penampilan luar seseorang, namun pastikan bahwa orang tersebut adalah benar-benar wali Allah.

Jagalah tauhid yang murni agar terhindar dari perbuatan ghuluw/berlebih-lebihan kepada orang Shalih, syarat doa diterima bukan dengan jalan berdoa di kuburan atau berdoa dengan tujuan orang shalih sebagai perantara doanya, melainkan berdoa kepada Allah dan meyakini hanya Allah yang maha kuasa atas segala sesuatu.

Sumber:

https://buletin.muslim.or.id/manhaj/ngalap-berkah-sesuai-sunnah

https://almanhaj.or.id/2465-karamah-para-wali.html

https://sunniy.wordpress.com/2010/01/21/hakikat-karomah-wali-allah-dan-wali-syaithan/

https://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/51-perbedaan-antara-wali-wali-allah-dan-wali-wali-syaithon

https://almanhaj.or.id/2465-karamah-para-wali.html

Iklan